Makna Mualim, Profesor dan Maestro dalam Jejak Sejarah Bahasa

Guru Profesor

Orang Arab menyebut profesor itu “ustadz atau ustadzah”, untuk menyebut guru mereka menggunakan kata “mualim”. Orang Prancis menyebut guru dengan kata “profesor”. Orang Itali menyebut guru dengan kata “maestro”. Itu kesan dari duolingo.

Di sini makna guru itu umum dan macam-macam. Guru di sekolah. Guru pencak. Soko guru. Guru lagu, guru wilangan. Adapun profesor dipakai untuk guru besar di kampus-kampus.

Mungkin  pilihan itu ikut di perguruan kanuragan atau persilatan yang pakai “mahaguru” seperti Mahaguru Pandita Durna. Tapi di persilatan mahaguru itu cuma satu. Berani jadi “mahaguru baru” harus langkahi mayatku dulu “mahaguru lama”.

Di sini kata mualim juga dikenal tapi tak begitu aktif di pemakaian. Yang aktif adalah kata ustadz atau ustadzah, tapi tidak untuk menyebut profesor. Dua kata itu dipakai untuk menyebut para guru ngaji dan para perceramah keagamaan di kalangan muslim kayaknya untuk yang belum dikyaikan.

Di sini kata maestro juga dipakai. Pemakaiannya kayaknya mengandung aura penghormatan terhadap ketokohan, kewibawaan, kekuatan dan kecakapan yang luar biasa dalam kekaryaan seperti Basuki Abdullah di seni rupa, Pramoedya Ananta Toer di sastra,  Rendra di teater, atau Chairil Anwar di puisi. Referensi lain: Cara Memilih Lokasi Perumahan Yang Ideal Untuk Keluarga

Kadang maestro mirip-mirip master di bahasa Inggris, bukan masternya anak-anak s-2 di pascasarjana, tapi master seperti untuk menyebut Master of Kung Fu atau Master of Ninja.

Kayaknya semuanya itu ada hubungan jika dihubung-hubungkan. Jawabnya ya tentu saja. Jangankan bahasa antarmanusia di dunia yang pada awalnya manusianya cuma Adam dan Hawa, di Kitab Suci Quran saat manusia belum turun ke bumi, mereka bahasanya sama dengan makhluk lain,  dengan malaikat dan iblis. Mereka pernah bersama-sama belajar kepada Tuhan. Cuma manusia Adam dikatakan paling pintar karena bisa menyebut nama-nama benda yang belum diajarkan mengalahkan malaikat dan iblis.

Saya tidak tahu apakah itu yang akhirnya dijelaskan oleh teori LAD Language Acquisition Device Chomsky tentang adanya perangkat di otak manusia yang membuat manusia mampu menciptakan kalimat-kalimat baru yang belum diajarkan.

Lalu manusia Adam Hawa turun ke bumi gara-gara buah kuldi, lalu beranak pinak, bercucu-cucu dan anaknya beranak pinak lagi dan cucunya bercucu-cucu lagi. Mereka semua tentu semula pakai bahasa yang sama ikut pakai bahasa  Mbah Adam, yaitu bahasa yang satu. Dan bahasa yang satu ini kayaknya cukup lama.

Saya pernah mendapat cerita dari seorang profesor Kristiani, beliau mengisahkan Kisah Menara Babel, tentang kejayaan manusia dengan kesombongannya yang akan membangun menara sundul langit. Tuhan marah. Tuhan mengacaukan bahasa mereka. Mereka lalu tak bisa bicara satu sama lain. Tambahan referensi: Merawat Rumah Agar Nyaman

Dan begitulah maka jadi banyak bahasa di dunia ini. Tapi fiksi-fiksi manusia menggambarkan macam-macam bahasa ini karena peristiwa-peristiwa alam, lalu manusia terpontang-panting dan bersebaran, membentuk kelompok-kelompok baru, berinteraksi berpikir menciptakan tindakan-tindakan dengan kondisi alam di sekitarnya, dan membangun bahasa baru masing-masing yang muncul dari sikap pikiran tindakan terhadap alam sekitarnya masing-masing.

Tapi entahlah. Yang pasti sudah lama Linguistik Historis Komparatif menelusuri bahasa-bahasa di dunia ini dan telah berhasil membuatkan silsisilah perindukan bahasa bahasa itu.

Juga Linguistik Kontrastif telah menelusuri jarak kedekatan bahasa-bahasa itu untuk memutuskan tingkat kesulitannya suatu bahasa dipelajari penutur bahasa lain.

Antropolog bilang manusia bisa belajar bahasa apa saja karena struktur alat ucap manusia  diciptakan untuk kemungkinan bisa berkata-kata. Tapi bahasa telah membawa kecakapan dan kesulitan sejak mencapai tahap tulisan. Selera maka bermacam. Seorang teman saya tidak suka belajar bahasa-bahasa Asia.  Katanya huruf-hurufnya sangat memusingkan.

Tapi belajar bahasa Prancis juga memusingkan karena tidak saja yang ditulis sering berbeda yang diucapkan tapi dalam  belajar mengucapkan bahasa itu sering harus membuang banyak huruf yang ditulis.

Yang agak memberi kemudahan orang-orang yang telah berumur adalah bahasa Spanyol dan bahasa Italia. Tulisan dan ucapan tak beda. Cuma problemnya, orang berumur penuh kerepotan hidup. Waktunya berlompatan. Tapi bila senang tetap bisa bersenang-senang entah untuk apa.

Temporaktif

Ikut berbagi informasi dan pengetahuan online untuk mencerdaskan masyarakat

Anda Mungkin Suka Artikel Ini:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.