Pramoedya begitu ternama. Kaitan sastra dan politik adalah medan kebesarannya. Tentu saja kami tahu tentang Pramoedya. Tetapi kami adalah generasi pasca-1965. Kami ingin membaca dari mana saja.
Saya mengenal awal kata Blora pertama kali dari kumpulan cerpennya tahun 1950-an Cerita dari Blora. Lalu saat membaca pembicaraan tentang Orang Samin di majalah Fakultas Sastra UGM dalam seminar Warna Lokal dalam Sastra Indonesia di UGM 1987. Andaikan tak ada Pramoedya, apakah orang akan mengenal Blora?
Jika Jakarta, setelah Pulau Buru, adalah dunia masa tua Pramoedya, Blora adalah masa kecil pengarang besar itu. Di kota kecil itu di rumah orang tuanya itu ia tumbuh bersama 10 saudaranya dan Cerita dari Blora adalah rekaman situasi derita manusia Blora di masa revolusi yang dihatatinya saat itu.
Mungkin Pramoedya adalah anak panah sakti. Dan rumah itu, kota kecil itu, adalah busur gandewa yang melesatkannya. Rumah itu, keluarga itu, ayahnya yang terdidik, ibunya yang menanamkan benih kekuaran jiwa, histori cara mempertahankan nilai dalam masyarakatnya ala Samin Surosentiko yang dikenal sederhana lugu, tetapi juga keras pada hal-hal yang orang menganggapnya masalah kecil, adalah mungkin saja daya kenyal busur gandewa itu.
Ketika anak panah itu tiada henti melesat ke mana-mana melucuti ketamakan-ketamakan yang menindas dan kerakusan-kerakusan yang merampas, tentu saja anak panah itu adalah maha bintang. Begitulah cerita-cerita Pramoedya, baik yang ditulis sebelum Pulau Buru maupun setelah Pulau Buru, adalah cerita semangat sejarah untuk sejarah penindasan.
Ada yang menindas. Ada yang ditindas. Ada tumbuh semangat yang ditindas melawan yang menindas.Tiada cerita yang tak begitu. Dan peristiwa-peristiwa sejarah itu hanyalah medan tempat memberi semangat kepada manusia-manusia yang dibayangkan dalam cerita itu. Pamoedya tak berhenti sekedar melukiskan derita seperti derita dalam kisah Saijah dan Adinda Max Havelar atau seperti derita kawan-kawan Srintil dalam
Ronggeng Dukuh Paruk. Ia tak membiarkan tokoh-tokohnya menunggu belas kasih. Ia memberinya kesadaran, kekuatan dan keberanian Topik lainnya: The Westin Jakarta Hotel Tertinggi
Pramoedya memang juga melukiskan derita tokoh-tokohnya bahkan hingga tak lagi menimbulkan tetes air mata seperti anak yang menemukan hanya kaki ayahnya dalam peristiwa pembakaran penjara, tetapi dalam keutuhan keseluruhan karya Pramoedya, tokoh-tokoh itu dibuatnya tersadar terbangun dan melawan. Mungkin saja akhirnya tokoh itu kalah dan mati dalam menghadapi kelicikan seperti kematian Mangir Wanabaya di tangan mertuanya sendiri Raja Mataram yang bengis. Tetapi kematiannya haruslah suatu kekalahan yang diperjuangkan dengan kehormatan
Tokoh utama cerita Pramoedya tidak boleh lemah seperti Empu Sedah yang tak berdaya ketika kekasihnya dirampas Raja Jayabaya. Tokoh idola Pramoedya setidaknta adalah Arok yang berani melawan Ametung yang dalam ketuaannya masih menindas dan rakus.
Dan di atas tesis itu bermunculan ceritanya yang yang banyak baik yang tipis seperti Bukan Pasar Malam, maupun cerita-cerita yang ketebalannya tak menunjukkan kelelahan seperti tetralogi Bumi Manusia, Arok Dedes maupun Arus Balik. Adakah aroma harum semerbak pada gandewanya.
Pikiran siapa harus berterima kasih kepada siapa ujung-ujungnya adalah bersumber dari perasaan merasa telah berjasa. Lalu menuntut.
Pramoedya selalu mengarang dan mengarang dengan cara supaya gampang dengan menuliskan kata apa saja yang ditemuinya untuk memulainya. Dan kata-kata ini pada akhirnya dicopot dari karangan-karangannya karena tak selaras lagi jika tetap disertakannya.
Bagaimana pun, kata-kata yang sering dipotong ini adalah pintu keluar yang melesatkan novel-novelnya, bagaimana pun, kata-kata itu adalah langkah pertama yang membukakan semua langkah berikutnya.
Apakah novel-novel itu harus berterima kasih kepada kata-kata yang telah dipotong yang membukakan jalan keluar bagi kelahiran mereka. Ataukah kata-kata yang dilenyapkan ini yang harus berterima kasih kepada novel-novel itu karena telah membuatnya tidak sia-sia?
Tetapi hidup sering tak memikirkan siapa harus berterima kasih kepada siapa seperti tarikan napas yang sering orang tak pernah menyadarinya.
Saya sendiri, yang meski bukan penulis tetapi menyukai kepenulisan, sangat menyukai Pramoedya perihal pandangannya tentang apakah hakikat menjadi penulis, yang saya rasakan sebagai jalan terbuka untuk siapa saja.
Menulis, katanya dalam sebuah wawancara yang pernah saya baca, adalah seperti berjalan di rimba sendirian.
Kata-katanya yang saya ingat, menulis adalah dunia kesendirian, bukan dunia ramai-ramai dalam pelatihan-pelatihan. Di rimba sendirian, orang hanya butuh keberanian dan kemandirian.
Menulis adalah dunia tidak ada tempat bertanya dan tidak ada siapa-siapa. Menulis hanya butuh upaya membulatkan keberanian. Dalam kesendirian orang dituntut keberaniannya mengambil keputusan sendirian.
Kadang saya berpikir, meski syarat itu seperti pintu terbuka, tetapi jalan itu sulit juga. Dalam persoalan kehidupan sehari-hari, tak ada jaminan kepastian kita bisa menemukan satu orang yang memiliki keberanian dari seratus orang yang ada. Yang banyak adalah pendukung, pengikut, penjilat, pencari selamat dan wani silit wedi rai, omong besar di balik layar.
Tetapi begitulah, Pramoedya memang selalu suka melemparkan tantangan. Silakan mengambilnya jika Anda punya keberanian. Tambahan informasi: Panduan Cara Beli Reksadana Online
Sudibyo Glendoh